Kisah Obsesi Ingin Langsing, Akhirnya Jadi Siksaan

Kisah Obsesi Ingin Langsing, Akhirnya Jadi Siksaan



foto: vivalife.com
Wajahnya yang selalu ceria dan selalu tampil penuh energi di setiap aksi panggung membuat pelantun Bolo-Bolo, Tina Toon dikenal sebagai seleb yang penuh dengan rasa percaya diri.

Tapi di balik itu semua, tak banyak yang tahu, jika artis yang semasa kecilnya ini terkenal karena tubuh gempalnya memiliki perjuangan berat untuk tampil sempurna di hadapan publik.

Terobsesi memiliki tubuh langsing, Tina bahkan harus berjuang melawan bulimia. Ini merupakan kelainan pola makan, biasanya sengaja dilakukan agar tubuh menjadi atau tetap langsing walau makan banyak.

Tindakan ini cukup ringkas, namun sangat menyiksa. Setelah makan, biasanya pelaku bulimia berupaya membuang semua makanan yang baru dia santap dengan memasukkan tangannya ke mulut agar bisa muntah. Ada pula melalui obat-obatan maupun olahraga yang berlebihan setelah makan.

Bagi sebagian kalangan, bulimia tidak saja dipandang sebagai penyimpangan namun juga dikaitkan dengan penyakit mental. Ini terkait dengan depresi atau gangguan emosional yang dialami seseorang yang merasa bentuk tubuhnya tidak sesuai dengan yang dia inginkan. Biasanya ini dialami mereka yang sangat memperhatikan penampilan fisik , seperti artis atau seleb.

Ada yang ingin bentuk tubuh mereka berubah drastis sehingga praktik bulimia pun mereka jalani, namun lama kelamaan itu menjadi kebiasaan yang mengganggu. Itulah yang dialami Tina.    

Dari Bully hingga Bulimia

Sejak kecil Tina memang selalu mengundang gemas para penggemar yang melihatnya. Apalagi, jika melihat gaya khasnya dengan goyangan kepala dan tubuhnya yang gemuk.

Namun tak banyak yang tahu, tubuh gemuknya itu justru membawa masalah bagi Tina saat ia sekolah, dan beranjak remaja. Tina menjadi korban bully teman-temannya. Menjadi bahan olok-olok karena tubuh suburnya.

Tina berusaha memendam masalah itu sendiri. Namun, akhirnya terserang stres berat.

"Remaja pasti ada stresnya. Pelampiasannya beda-beda, ada di YouTube, sosmed, ada yang langsung gila."

Tina tak memungkiri, masa remaja adalah masa paling indah. Tapi buat Tina, masa itu justru membuat hidupnya harus merasakan banyak masalah. Tak hanya menderita stres, Tina remaja juga harus merasakan penderitaan diserang bulimia.

Tiga tahun lebih, ia menderita penyakit ini. "Nah, kalau stres, gue larinya ke makan dan bulimia," ungkapnya.

Beruntung, dia bisa keluar dari permasalahan tersebut. Tina mulai membenahi hidupnya pelan-pelan. Ia isi dengan kegiatan positif. Dan semakin mendekatkan diri dengan keluarga.

"Keluarga selalu bikin up. Mami sama Oma nomor satu. Dulu lagi gendut-gendutnya, mau live di TV, Mami fotoin, katanya kurus. Mereka bukan bohongin, tapi coba nguatin," ujarnya.

Kini, tubuh Tina memang tak segempal dulu. Ia mengaku pernah menyentuh bobot 78 kilogram kala tinggi tubuhnya 140 sentimeter. Dan kini, Tina telah berhasil, ia telah bertransformasi menjadi perempuan berbadan seksi.

“Sekarang berat badan saya sekitar 50-51 kilogram,” kata Tina.

 “Semua ini saya raih setelah jatuh bangun diet, bahkan sampai harus diopname karena menolak makan.”

Untuk orang yang doyan makan seperti Tina, diet sangatlah menyakitkan. Sebab mereka harus menghindari hal yang paling disukai. Bahkan di awal diet, Tina kerap megendap-endap ke dapur untuk menyantap kue. Meski kerap kepergok dan diomeli oleh si oma, Tina tidak surut berusaha mendapatkan roti untuk menghilangkan keroncongan perutnya.

“Sampai-sampai Oma dan Mami bosen melarang, badan saya pun gemuk lagi,” cerita Tina. “Sampai satu titik saya niat dan mengubah pola pikir soal diet. Akhirnya bisa kurus seperti sekarang.”

Salah diet

Demi bertubuh langsing, Tina mengaku sempat menghalalkan segala cara. Tina mengambil jalan pintas, merogoh tenggorokan hingga muntah. Mereka yang melakukan hal ini disebut sebagai penderita bulimia nervosa. Dan Tina pernah mengidap bulimia tiga tahun lebih.

Sepanjang itu, tidak ada anggota keluarga Tina yang tahu. Dan ia tidak hanya memaksakan diri memuntahkan segala penganan yang sudah masuk perut. Juga berolahraga secara berlebihan, hingga berjam-jam dalam sehari. “Akhirnya Oma memergoki dan menginterograsi saya,” ujar Tina. “Dengan proses yang cukup lama, saya sembuh dari penyakit itu.”

Bagi Tina, dukungan keluarga sangat berarti. Apalagi ketika ia sangat ingin menurunkan berat badannya. Selain harus mencari cara diet yang sesuai dengan tubuh, Tina juga kerap depresi ketika berhadapan dengan angka timbangan yang tidak kunjung bergerak ke arah kiri. Kalau sudah begitu, Tina melanjutkan, rasanya stres. Bahkan ia sempat membanting dua alat timbangan.

Untuk itu, dukungan keluarga mesti kuat. Sehingga mereka yang menjalani diet tak mudah menyerah. “Dukungan keluarga juga penting agar orang gemuk, terutama remaja, tidak salah jalan seperti saya dulu,” ujar Tina.

Mengenal Bulimia

Masalah bulimia yang dihadapi Tina termasuk sebagai gangguan pola makan. Pengakuan Tina sebagai penderita Bulimia hingga berhasil mengalami perubahan berat badan drastis mengagetkan banyak orang.

Gangguan makan ini tak bisa disepelekan karena dapat menyebabkan komplikasi medis yang kronis mulai dari dehidrasi, gagal ginjal, gagal jantung hingga gangguan pencernaan.

Bulimia nervosa atau dikenal sebagai bulimia merupakan gangguan makan kronis yang dapat mengancam kelangsungan hidup penderitanya. Penderita bulimia memiliki kebiasaan menyingkirkan kalori berlebih dengan cara yang tidak sehat seperti memuntahkan makanan.

Terdapat dua kategori bulimia yaitu purging bulimia di mana penderitanya secara rutin memuntahkan makanan atau mengonsumsi obat pencahar, diuretik atau enema dengan dosis berlebihan dan non purging bulimia yang penderitanya melakukan pengurangan kalori dalam tubuh dan mencegah naiknya berat badan dengan melakukan puasa, diet ketat atau olahraga berlebihan.

Seperti dilansir dari situs web kesehatan Medicinenet, tidak ada penyebab spesifik bulimia namun beberapa faktor seperti psikologis dan biologis berperan penting dalam munculnya gangguan makan ini.

Bulimia dan gangguan kejiwaan

Seseorang yang memiliki anggota keluarga yang mengidap gangguan makan berisiko lebih tinggi untuk mengidap penyakit yang sama. Namun, menurut beberapa studi, para penderita bulimia umumnya memiliki masalah psikologi dan kesehatan mental yang terganggu seperti memiliki kepercayaan diri yang rendah, terobsesi memiliki postur tubuh yang langsing dan sebagainya.

"Orang yang mengidap bulimia, terutama kaum perempuan, ekspektasinya sangat tinggi. Misalnya menjaga penampilan dalam keseharian, menjaga berat badan supaya tetap ideal. Mereka juga dituntut lingkungannya agar badan tetap prima, menjaga makanan," kata Psikolog dari Universitas Maranatha, Bandung, Efnie Indranie saat berbincang dengan VIVAlife, Kamis, 11 September 2014.

Dalam hal ini,  lanjut Efnie wanita khususnya remaja antara usia 15 hingga 22 tahun ternyata lebih rentan mengidap gangguan makan ini. Hal tersebut dikarenakan tekanan sosial seperti yang mereka lihat di kalangan teman-teman atau media mengenai bentuk tubuh ideal seorang wanita.

Bulimia, kata Efine bukan hal yang mudah untuk disembuhkan karena bukan hanya berkaitan dengan pola makan yang tidak sehat namun juga mengenai bagaimana seseorang memandang citranya sendiri.

Walau begitu, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk sembuh dari gangguan makan ini misalnya rutin berkonsultasi dengan dokter, terapi ke psikiater hingga pengobatan alternatif seperti akupunktur.

Menyebabkan Depresi

Bulimia biasa dialami oleh sosialita dan selebritis ternama. Bahkan yang paling berbahaya, kata Efnie, penderita bulimia bisa mudah mengalami depresi, ada tuntutan perilaku. "Saya menyebutnya ada abnormal behaviour. Tidak wajar dong ini. Mereka juga pakai obat-obatan supaya muntah. Atau, memakai tangan dan benda lainnya supaya muntah."

"Mental mereka pasti tidak kuat. Itu kenapa mereka sampai melakukan bulimia demi karier dan penampilan mereka. Ada presure dari lingkungan. Personality-nya lemah."

Jika bulimia tak segera disembuhkan, ini akan sangat berbahaya, karena dapat kesehatan. "Merusak lambung. Dan ujung-ujungnya bisa depresi. Dipulihkannya lama dan mahal. Ada kemungkinan muncul irrasional believe.

Bukannya jadi nggak pede setelah kurus. Tapi juga ada reaksi. Ada reaksi insecure. Perilaku bulimia ini secara psikologis sudah menyimpang," lanjut Efnie.

Sumber: vivalife.com



Scroll to top